wisatajawa.com – Kota Bogor yang sejuk sangat memungkinkan untuk tumbuhnya berbagai macam tanaman yang bisa mendatangkan manfaat untuk warga sekitarnya. Salah satunya adalah Kebun Durian Wraso Farm yang sekarang menjadi Wisata Kebun Durian di Wisata Jawa Barat. Alamat lokasi salah satu Wisata Jawa ini berada di Desa Cihideung, Kec. Cipelang, Kab. Bogor, sebuah Kebun Durian Warso ini pertama kalinya dirintis oleh seorang pensiunan dari TNI AD bernama Soewarso Pawaka. Disini tidak tersedia tiket untuk masuk ke dalam Kebun Durian Warso, namun para pengunjung juga tidak boleh memetik buah apa pun, terkecuali jika Anda datang waktu musim panen durian, biasanya pada bulan Desember s/d Mei, dan puncaknya pada bulan Januari s/d Maret.

wisatajawa.com – Berwisata Keluarga di taman bunga dengan udara sejuk tentu merupakan hal yang menyenangkan. Daerah seluas 35 hektar dengan hamparan tanaman hijau, bunga-bunga cantik yang tertata rapi, dan bebas polusi. Itulah gambaran dari tempat rekreasi Taman Bunga Nusantara di Puncak. Beralamat di Jl. Mariwati KM 7, Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, taman ini menyajikan berbagai jenis bunga baik bunga lokal maupun yang berasal dari luar negeri. Harga tiket untuk masuk ke Taman Bunga Nusantara, yang telah berdiri pada tahun 1995 adalah sebesar Rp 15.000,- per orang sedangkan biaya tiket parkir hanya Rp 2.000,- untuk sepeda motor dan Rp 5.000,- untuk mobil. Anda dapat melihat sebuah taman yang sangat luas sejauh mata memandang. Di depan pintu masuk, Anda bisa mengabadikan suasana dengan berfoto bersama teman atau keluarga patung burung merak. Burung merak ini sangat unik karena disusun dari berbagai tanaman dan bunga. Selain burung merak, ada juga yang disusun menyerupai kelinci, panda, dan binatang lainnya.

Kota Bandung memang memiliki sejuta tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang paling banyak dikenal adalah wisata alam yang menyuguhkan pemandangan alami nan indah serta udara yang sejuk dan bersih. Tetapi bukan berarti semua tempat wisata di Bandung selalu ramai dikunjungi. Terdapat sebuah tempat yang menurut banyak orang adalah tempat paling misterius dan kontroversial di Bandung serta berkaitan erat dengan asal-usul Kota Bandung.

Tempat itu bernama Sanghyang Tikoro. Konon katanya, sebelum menjadi seperti sekarang, wilayah Bandung adalah sebuah danau yang sangat besar yang bernama Danau Bandung Purba. Namun secara ajaib air danau tersebut menghilang dan wilayah yang mengering ini menjadi Kota Bandung yang ada sekarang. Sanghyang Tikoro sendiri merupakan sebuah gua yang dipercaya sebagai tempat menghilangnya air Danau Bandung Purba sekaligus tempat munculnya peradaban Suku Sunda.

Sanghyang Tikoro saat ini terletak di kawasan hutan yang belum banyak dijamah oleh manusia karena lokasinya yang jauh dari perkotaan dan sulit dicapai. Selain itu kabar mengenai angkernya tempat ini juga semakin membuat Sanghyang Tikoro sepi dari pengunjung atau wisatawan. Bahkan, hingga saat ini belum pernah ada seorang pun yang memasuki Goa Sanghyang Tikoro. Karena diliputi berbagai hal misterius, bahkan beberapa orang mengaku melihat orang-orang semedi di atas mulut gua ini pada hari-hari tertentu seperti Kamis Kliwon atau Selasa Kliwon yang juga merupakan hari yang dianggap mistis.

 

 

284067_1977112225250_1166442406_31960190_1485082_n

Tentu saja sudah ada beberapa orang yang mencoba memberi penjelasan ilmiah mengenai gua ini, meskipun kebenarannya juga belum dapat dipastikan. Jika ditelisik secara ilmiah, terbentuknya Gua Sanghyang Tikoro adalah akibat dari letusan Gunung Sunda yang dahsyat yang mengakibatkan permukaan tubuhnya hancur tanpa sisa. Letusan ini kemudian menyisakan lekukan-lekukan yang penuh dengan lahar yang sangat panas. Lahar panas dalam jumlah yang banyak membuat sungai di Batujajar, Cililin, dan Padalarang berubah menjadi lahar dingin dan menjadi telaga yang bernama Talaga Bandung. Tanah kapur yang ada Batujajar dan Cililin ini kemudian terkikis sedikit demi sedikit dan membentuk sebuah lubang aliran yang saat ini dikenal sebagai Sanghyang Tikoro.

 

Lokasi Goa Sanghyang Tikoro : Terletak diantara kecamatan rajamandala dan Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Sanghyang tikoro bersebelahan dengan PLTA Saguling sekitar 17km dari pusat bendungan dan ada diwilayah turbin terakhir.

Wisata di Subang yang biasa kita kenal mungkin hanyalah Ciater, tapi semakin berkembangnya media informasi yang semakin mudah di akses membuat wisata yang ada di Subang semakin banyak bermunculan, salah satunya yang lagi hits adalah Mata Air Cimincul. Sebenarnya Subang sendiri menyimpan begitu banyak potensi wisata yang sebenarnya bisa lebih di eksplor lagi. Kali ini kita akan mencoba fokus membahas Mata Air Cimincul.

mata-air-kasumber
Wisata mata air Cimincul yang berada di persawahan Desa Pasanggarahan menjadi destinasi wisata yang diburu. Airnya yang jernih dan sangat alami kerap dijadikan lokasi selfie. Beragam gaya ala "dua alam" menjadi trending, yakni berfoto di dalam air namun luar air pun terbawa. Malah gaya yang dipakai saat foto di air pun layaknya kegiatan di darat. Inilah kawasan wisata mata air Cimincul yang bisa menjadi magnet baru bagi wisata Subang.

064288300_1453971247-mataaircov

Lokasi dan Rute Mata Air Cimincul, Subang
Lokasi wisata mata air Cimincul tidak terlalu jauh dari ibu kota Kabupaten Subang. Anda bisa menempuhnya sekitar 27 kilometer (sekitar 90 menitan). Adapun dari Kota Bandung, jarak Subang sekitar 30 kilometer atau memakan waktu sekitar 120 menit. Tempat wisata ala desa inimenyimpan perpaduan destinasi alam dengan potensi penduduk, yakni warga desa setempat memiliki keterampilan membuat gula aren, sagu, kelontong buram, dan rengginang. Jadi, sambil wisata di mata air Cimincul, wisatawan pun bisa membeli oleh-oleh produk khas setempat. Untuk ke tempat wisata ini, Anda bisa melalui jalur Tol Cipali dan keluar di gate Kalijati (Jln. Raya Kalijati) – Jalan Cijambe – Jln. Cagak – Jln. Kasomalang (dekat PT Tirta Investama/Aqua).


Mata air Cimincul terletak di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang. Cimincul berasal dari kata paduan kata cai = air dan mincul = timbul. Menuju ke tempat ini sebenarnya gampang, hanya ada turunan curam. Dulu, tempat ini biasa dimanfaatkan oleh penduduk. Namun, setelah ada yang memposting di media sosial, tempat ini menjadi target baru para pencari tempat wisata tersembunyi.

Bahkan para pengunjung rasanya tak lengkap jika belum mencoba menceburkan diri ke mata air ini. Aliran airnya kini sudah diatur dengan adanya penampungan. Di dalam air pun ada batu-batu alami dan aliran air mengalir ke sungai-sungai kecil di area persawahan. Pemandangan persawahan pun menjadi daya tarik tersendiri. Selain mata air Cimincul di desa yang sama Pasanggrahan, Kasomalang, terdapat mata air Kasumber.

 

Tips dan Panduan Menuju Mata Air Cimincul Subang Jawa Barat

  • Jaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
  • Perhatikan kebun warga, jangan sampai merusak atau mengambil apapun.
  • Jalan menuju kesini cukup curam, jadi gunakan alas kaki yang nyaman.
  • Pastikan pengemudi handal, karena jalan daerah Subang sempit, berkelok dan terjal.
  • Bawa pakaian ganti jika ingin berenang.
  • Don’t judge by its cover” pesona mata air itu bukan dilihat dari atas, tapi difoto dari dalam permukaan air.
  • Untuk mendapatkan foto yang keren, gunakan gear kamera tahan air serta dome agar bisa menciptakan foto dua alam. Daratan dan bawah permukaan air bisa ditangkap gambarnya dengan mudah.
  • Datang sore atau pagi hari agar cuaca lebih bersahabat dan tidak terlalu terik.
  • Jangan ambil apapun kecuali foto dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki.

Telaga Remis, danau yang menawarkan suasana ketenangan berbalut dengan keindahan yang alami. Telaga ini terletak di kawasan Desa Kaduela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Berjarak kurang lebih 37 km atau dapat ditempuh 1 jam dari pusat Kota Kuningan, Telaga Remis memiliki lahan seluas 13 hektar untuk wilayah keseluruhan. Sedangkan luas danau atau telaganya hanya mencapai 3,25 hektar.

Disini anda bisa menemukan wahana sepeda air untuk berkeliling menambah keasyikan tersendiri saat berkunjung ke area wisata yang saat ini dikelola oleh Perum kehutanan Kabupaten Kuningan ini. Tentunya akan menyenangkan sambil menikmati rasa nyaman yang meliputi saat berada di tempat ini. Bagi Anda yang menyukai aktivitas berjalan kaki, terdapat jalur khusus untuk pejalan kaki yang dibuat untuk memutari telaga ini. Lain lagi bagi penyuka hobi memancing, Telaga Remis menyimpan aneka ikan yang bisa dibawa pulang. Ikan seperti mujair dan ikan mas menjadi ikan yang mendominasi Telaga Remis.

8063024282_076f64de10_b

Nama Telaga Remis diambil dari dua kata yaitu telaga dan remis. Telaga berasal dari bahasa Sunda yaitu danau sedangkan remis adalah sejenis kerang bewarna kuning yang banyak hidup di sekitar telaga dan disebut remis oleh masyarakat sekitar. Namun disisi lain, terdapat mitos yang menceritakan awal terbentuknya telaga ini.

Dahulu Keraton Cirebon yang dipimpin oleh Sultan Matangaji menolak untuk memberi upeti kepada Kerajaan Mataram yang seharusnya diberikan. Maka diutuslah Pangeran Selingsingan dan anak buahnya. Namun sebelum sampai tujuan, rombongan ini bertemu dengan kelompok Pangeran Purabaya dari Mataram yang ingin menagih upeti. Hingga akhirnya perang pun tak terelakkan.

Bertempat di kaki Gunung Slamet, Pangeran Selingsingan ternyata tidak bisa menandingi ketangguhan Pangeran Purabaya dan pasukannya. Hal ini yang membuatnya mundur dan mengirim pesan kepada Sultan Matangaji.

Mendengar keadaan itu, sultan mengutus menantunya yang sakti mandraguna menuju medan perang. Hal ini tidak ditolak oleh Elang Sutajaya. Demi membantu saudara-saudaranya yang tengah terdesak, dirinya berangkat membantu Pangeran Selingsingan dan memenangkan peperangan.

Sampai ditujuan, Elang Sutajaya mencari Pangeran Purabaya sebagai musuh utama. Dirinya menggunakan keris sebagai senjata dan ilmu sakti untuk mengalahkan sang utusan dari Kerajaan Mataram itu. Dan tanpa ampun, keris yang menjadi senjata Elang berhasil menghunus badan Purabaya hingga terbelah menjadi dua.

telaga-remis-900x530

Merasa kalah, Pangeran Purabaya meminta belas kasih kepada Elang Sutajaya untuk diampuni. Dirinya merasa hanya orang biasa yang beragama islam. Namun Elang Sutajaya tak bergeming. Ia mengatakan bahwa Purabaya bukanlah muslim yang baik. Karena tidak ada muslim yang melakukan kekerasan termasuk memulai peperangan sampai membunuh.

Mendengar nasihat yang keluar dari Elang Purabaya, Pangeran Selingsingan pun menagis tanpa henti. Hingga air matanya membentuk sebuah Telaga Remis. Sedangkan Pangeran Purabaya berubah wujud menjadi seekor Bulus atau kura-kura. Bulus tersebut diberi nama Si Mendung Purbaya.

 

Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke obyek wisata Telaga Remis ini, cukup terjangkau jika dibandingkan dengan apa yang kita bisa nikmati di area Telaga, namun yang menjadi pertanyaan adalah ternyata total harga tiketnya terbagi menjadi beberapa source, entah itu yang dari dinas pariwisata, Pengelola taman nasional gunung Ciremai, dan instansi terkait lainnya yang tak kurang dari 5 macam host, ini menjadi minus dari Telaga Remis sendiri, tentunya semakin banyak pungutan semakin banyak pula biaya yang keluar.

 

Aksebilitas


Petunjuk arah jalan menuju obyek wisata Talaga Remis Kuningan adalah sebagai berikut :
Wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya bisa menggunakan bus atau kereta api
Bagi pelancong yang menggunakan bus, dapat menggunakan bus jurusan Jakarta – Cirebon turun di depan Pasar Cilimus, kemudian dari sana dilanjutkan menggunakan angkutan umum menuju Mandirancan lalu Pasawahan, dan dilanjutkan ke Lokasi wisata Talaga Remis. Tarif Jakarta ke Obyek Wisata Telaga Remis sekitar Rp. 50.000,- sampai Rp. 60.000,-
Transportasi alternatif menuju Wisata Talaga Remis menggunakan kereta api jurusan Jakarta – Cirebon yang menju Stasiun Kejaksan Cirebon, kemudian dari cirebon bisa menggunakan jasa travel dengan harga relatif murah yang langsung menuju lokasi.