SEJARAH REOG PONOROGO – TARI KHAS JAWA TIMUR

wisatajawa.com – Siapa yang tidak mengenal kesenian Reog Ponorogo? Tentu saja kalian pasti sudah mengetahuinya dan bahkan sudah pernah melihat pertunjukan kesenian khas Jawa Timur ini. Kesenian ini tidak hanya terkenal di Indonesia melainkan sudah terkenal pula di negara lain. Kesenian unik ini mngundang wisatawan untuk berkunjung ke negara Indonesia. Walaupun kita sudah mengenal kesenian ini, apakah ada yang mengetahui asal-usul dari kesenian ini? Reog Ponorogo memiliki asal-usul yang berbeda-beda dari setiap kalangan masyarakat karena hanya disebarkan melalui mulut ke mulut, namun memiliki cerita yang sama.

Bagi kalian yang sudah pernah melihat pertunjukan ini pasti sudah mengetahui jalan ceritanya, kesenian ini menceritakan putri yang berparas cantik jelita, Dewi Songgolangit dengan Prabu Klonosewandono. Awal kisah dimulai ketika Dewi yang berasal dari kerajaan kediri bingung karena banyak pangeran dari kerajaan lain ingin menikahinya. Dewi songgolangit bersemedi untuk mengetahui syarat apa yang akan ia minta kepada calon suaminya. Setelah 4 hari bersemedi, Dewi Songgolangit kembali dan mengatakan pada ayahnya bahwa persyaratan untuk menikahinya adalah calon suaminya harus memberikan pertunjukan yang menarik yang dalam pertunjukan itu ada hewan berkepala 2 dan 140 ekor kuda kembar.

Setelah mendengar persyaratan itu, banyak pangeran yang menyerah karena tidak sanggup memenuhi permintaannya, hingga hanya tersisa 2 pangeran yang menyanggupinya. Mereka adalah Singabarong yang berasal dari Kerajaan Lodaya dan Klonoswandana dari kerajaan Bandarangin. Kedua pangeran itu sama-sama kuatnya, hingga mereka bersaing untuk memiliki dewi songgolangit. Persyaratan dari Dewi Songgolangit masih belum diselesaikan, Singabarong dan Klonoswandana masih belum menemukan hewan berkepala 2. Klonoswandana memata-matai Singabarong yang sedang duduk dengan burung merak yang sedang mematuki kutu dirambutnya. Hingga akhirnya Klonoswandana menggunakan kekuatannya dan burung merak itu menempel di kepala Singabarong. Terjadi pertarungan disini, kedua pangeran itu sama-sama menggunakan pusaka mereka untuk saling menyerang. Singabarong dengan kerisnya dan Klonoswandana dengan cambuk Samandiman yang berhasil membuat singabarong terlempar dan berubah menjadi hewan berkepala dua.

Dengan demikian, Klonoswadana berhasil memenuhi persyaratan dari Dewi Songgolangit. Ia memberikan pertunjukan yang dapat membuat masyarakat sangat menyukainya. Akhirnya Dewi Songgolangit dan Klonoswadana menikah. Dari sinilah kesenian reog ponorogo lahir, dan hingga saat ini terus dilestarikan dan dibudayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia umumnya dan Ponorogo khususnya.

About Author

client-photo-1
admin

Comments

Leave a Reply