Jelajah Masa Lampau Kotagede

wisatajawa.com – Menapaki sejarah tidak harus selalu di museum, tetapi bisa juga menyusuri tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah. Yogyakarta yang mempunyai sejarah panjang dari Mataram kuno sampai saat ini memiliki puluhan museum dengan berbagai macam benda peninggalan kerajaan Mataram, pergerakan kemerdekaan, dan benda seni seperti batik atau keris. Sejarah juga bisa ditelusuri melalui bangunan peninggalan, seperti yang bisa ditemui di Kotagede. Di daerah tersebut terdapat banyak bangunan peninggalan (heritage) Kerajaan Mataram. Dari pasar Legi yang menjadi pertemuan para pedagang dan pembeli, makanan khas seperti Kembang Waru, makam Raja-raja, tata kota yang mirip dengan Kerajaan Majapahit; Alun-alun, pusat pemerintahan, pasar, masjid atau bisa disebut Catur Gatra Tunggal yang dikelilingi oleh Cepuri (dinding dalam) dan Baluwerti (dinding luar).

Penulusuran sejarah tersebut telah dikembangkan oleh beberapa pihak yang peduli dengan sejarah leluhur dan ketertarikan wisatawan akan sejarah Mataram. Mereka menyediakan sepeda ontel atau becak sebagai transportasi. Rutenya sangat sederhana; titik temu yang telah ditentukan, biasanya lapangan menuju ke tempat pembuatan kue tradisional Kembang Waru. Yang membuat tempat ini istimewa adalah originalitas pembuatannya. Dibuat oleh tangan-tangan yang sudah terlatih dan hanya menggunakan bahan sederhana seperti tepung, gula, dan telur. Alat yang digunakan pun masih sederhana, hanya pengocok tangan dan oven dengan oven berbahan bakar arang. Dalam sehari, dagangan mereka selalu habis dan itupun tanpa mereka jajakan karena pelanggan selalu datang dengan sendirinya.

Selanjutnya menuju pasar Legi, pasar yang masih terlihat kokoh dan hanya beroperasi sampai jam 16:00. Barang yang dijual seperti kebutuhan pangan, alat rumah tangga, ataupun jamu tradisional. Sederhana dan biasa tetapi memiliki nilai penting dari perkembangan kerajaan Mataram. Sebagai titik temu berbagai kalangan masyarakat.
Rute setelahnya adalah pemukiman warga yang mempunyai toponim yang sangat unik, mirip dengan Majapahit. Rumah-rumah biasanya mempunyai tembok yang tinggi, dihuni beberapa keluarga kecil dengan adanya taman di dalamnya. Sehingga di pemukiman tersebut akan terlihat lorong-lorong dengan tembok tinggi. Selanjutnya, kita akan menuju Between Two Gates, yang menurut tahun yang tecantum dibangun pada 1840. Di antara kedua gerbang tersebut, bangunan pemukiman-pemukiman dihuni dengan beberapa renovasi yang dilakukan.

Terakhir adalah kompleks makam raja dan masjid Agung yang saling berdekatan. Jika pengunjung ingin masuk ke dalam makam, maka diharuskan memakai pakaian tradisional yang telah disiapkan oleh abdi dalem. Abdi dalem yang berasal dari Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Solo tersebut selalu berjaga di depan gerbang makam. Baju tradisional bisa dipinjam dan sebagai gantinya kita memberi donasi seikhlasnya. Di samping makam terdapat pemandian yang dipercaya oleh masyarakat mempunyai manfaat magis. Air matanya berasal dari makam yang memiliki banyak pohon besar.
Penulusuran sejarah Kotagede ini bisa ditambah dengan mengunjungi tempat kerajinan yang menjadi ciri khas Kotagede, yaitu kerajinan perak. Kita juga bisa ikut membuat kerajinan dengan membayar harga yang telah ditawarkan. Barang yang bisa kita buat juga beragam, seperti pin, gantungan kunci ataupun bandul liontin.

Berikut adalah salah satu contoh itinerary yang bisa dilakukan untuk menjelajah masa lampau di Kotagede. Adapun menggali informasi lebih lanjut, terdapat banyak local guide yang bisa dihubungi. Selamat menjelajah waktu.

About Author

client-photo-1
admin

Comments

Leave a Reply